Berita EKB

Upacara Ranu Ayu 2026 Sukses Diselenggarakan

Ranu Ayu, upacara yang bertujuan sebagai apresiasi dan syukur atas berkat Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk air dan sungai sukses digelar kembali pada Minggu kliwon, 12 Juli 2026. Bertempat di Pasar Brantas, Desa Ngogri Kecamatan Megaluh, upacara yang merupakan kolaborasi bersama antara Arboretum Art Movement dan Ekosistem Kreatif Brantas ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari masyarakat umum, komunitas, institusi pendidikan, dan para organisasi kepemudaan. Diselenggarakan kedua kalinya setelah yang perdana di tahun lalu, upacara ini lahir karena adanya keprihatinan akan kondisi lingkungan khususnya sungai di Kabupaten Jombang yang memprihatinkan. “Air adalah kebutuhan esensial dari makhluk hidup. Sungai menjadi bagian penting dalam siklus air dimana Jombang dialiri oleh banyak sungai misalnya Sungai Brantas. Sayangnya banyak dari sungai-sungai tersebut menghadapi tantangan seperti pencemaran, pendangkalan, dan hilangnya ikan lokal. Ranu Ayu lahir sebagai bentuk solidaritas bersama untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan air dan sungai.” jelas Muchdlir Zauhariy atau akrab disapa Johar, pendiri Ekosistem Kreatif Brantas.

Adapun pelaksanaan Ranu Ayu ini terdiri dari beberapa mata acara. Upacaranya sendiri diawali dengan penampilan tari bedhaya swaccha drajat oleh Sanggar IJ Art, tari yang menggambarkan air suci dan mensucikan serta penampilan Teater Soca Tirta SMKN Mojoagung dan Teater Kertas SMAN Mojoagung. Upacara dilanjutkan dengan pengambilan air dari Sungai Brantas, penampilan penampilan wayang brantas lakon Sri Paduka Rojo Boyo Seto dari Sengeran, pembacaan dawuh gawan sabda karma, do’a dan tumpengan. Mata acara berikutnya adalah prakrti sambaddha yang mengajak para peserta untuk lebih dekat dengan alam, tanpa jeda dan sekat. Warna abipraya mengajak peserta menyalurkan kreativitas lewat warna, gambar, serta pesan-pesan untuk alam. Dan Ranu Ayu ditutup dengan Sarasehan Alam berupa diskusi lintas arah antara para peserta dengan beberapa narasumber. Acara ini berlangsung meriah karena adanya hiburan seni budaya dari beberapa grup seperti grup karawitan Taruna Laras SMKN Mojoagung, grup gejok lesung Guyup Rukun, dan grup musik opyak Adem Ayem. 

Revitalisasi Seni Upacara Sebagai Strategi Ekologis Komunitas

Di tengah derasnya arus industrialisasi dan eksploitasi sumber daya alam, sungai-sungai di Indonesia tak hanya mengalami pencemaran ekologis, tapi juga kehilangan makna kulturalnya. Sungai Brantas, sebagai salah satu sungai utama di Pulau Jawa. Kini berada dalam kondisi kritis akibat limbah industri, sampah rumah tangga, serta perampasan sumber air oleh korporasi. Namun di balik krisis tersebut, muncul gerakan-gerakan komunitas yang mencoba merespons tidak hanya dengan aksi protes, tetapi juga melalui pendekatan kultural. Salah satunya “Upacara Ranu Ayu”. Upacara ini lahir dari kesadaran komunitas akan rusaknya Sungai Brantas dan kerinduan akan kelahiran seni yang memiliki ruh pengikat antara manusia, air, dan alam. Ranu Ayu, sebagai figure mitologis penjaga sungai, diciptakan sebagai bagian dari strategi kultural: menciptakan cerita, membangun narasi kolektif, dan mengembalikan pemahaman akan kekuatan sakral alam semesta.

Seni upacara, seperti yang diperlihatkan dalam Ranu Ayu, tak hanya menjadi ruang ekspresi estetik, tetapi juga sarana untuk membangun kesadaran ekologis, mempekuat solidaritas komunitas dan masyarakat, dan menyampaikan kritik sosial. Dalam konteks Sungai Brantas, upacara ini menjadi bentuk penolakan terhadap perampasan air oleh industri, sekaligus usaha menghidupkan kembali narasi lokal memuliakan air sebagai ruh kehidupan. Melalui seni upacara, warga tak hanya menjadi penonton, melainkan turut terlibat sebagai pelaku. Mereka menyumbang cerita, suara, dan ekspresi mereka dalam aksi kolektif yang tak hanya menyentuh rasa, tetapi juga menyentil logika ketimpangan sosial – ekologis. “Sebagai kolektif yang diinisiasi oleh anak-anak muda, kami percaya bahwa pendekatan seni budaya kontemporer mampu meruntuhkan jarak antara isu ekologi yang kompleks dan kesadaran masyarakat akar rumput. Upacara Ranu Ayu adalah ikhtiar kolektif kami untuk mengembalikan martabat dan kelestarian Sungai Brantas melalui gerakan kebudayaan yang berdampak nyata,” tambah Novan Ardiansyah, Ketua Arboretum Art Movement.

Selama pelaksanaan Ranu Ayu, para peserta terlihat antusias dan khidmat mengikuti rangkaian acara. “Kegiatannya sangat positif, dapat menjadi wadah belajar untuk cinta dan peduli terhadap alam & lingkungan sekitar. Mengingatkan kami bahwa peran generasi muda sangat penting dalam pelestarian lingkungan. Semoga kegiatan ini akan selalu berdampak baik bagi masyarakat.” ucap perwakilan Putera Puteri Batik Jombang. Sedang salah satu perwakilan Duta Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang menyatakan bahwa acara ini membuka wawasan akan landskap lingkungan khususnya air dan sungai di Jombang, terhubung dengan banyak peserta lain dari berbagai latar belakang yang berbeda, dan tentunya bisa menikmati ragam seni budaya baik tari dan musik.

Arboretum Art Movement dan Ekosistem Kreatif Brantas mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan ini baik sebagai panitia termasuk teman-teman Teater Soca Tirta SMKN Mojoagung, Teater Kertas SMAN Mojoagung, dan warga Desa Ngogri Megaluh, peserta, pedagang, penampil seni budaya, pemerintah, media partnert dan lainnya sehingga acara tahun ini lebih apik baik dari sisi seremonial maupun substansial. Mari terus jaga dan lestarikan lingkungan termasuk sungai untuk Jombang dan Jawa Timur yang berkelanjutan.

Ekosistem Kreatif Brantas (EKB) adalah inisiatif pembangunan wilayah pedesaan yang berada di bawah naungan Yayasan Salasika Indonesia. EKB berfokus pada pelestarian lingkungan, pelestarian seni budaya, dan pemberdayaan ekonomi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *