Berita EKB

Gayeng Nang Museum Spesial 1 Suro

Pada Selasa malam, 16 Mei 2026 lalu Ekosistem Kreatif Brantas menyelenggarakan acara Gayeng Nang Museum dalam rangka malam 1 suro menyambut tahun baru Islam 1448 Hijriyah. Gayeng Nang Museum adalah acara rutin yang kami selenggarakan beberapa kali setiap tahun dalam rangka selebrasi seni budaya sekaligus menguatkan kebersamaan di antara para peserta dan keluarga besar. Malam 1 Suro adalah momen penting bagi masyarakat Jawa. Pada momen ini, di berbagai daerah diadakan tradisi khusus misalnya berupa acara selametan, acara siraman, acara kirab pusaka, dan lainnya. Tradisi yang memang perlu diuri-uri atau dilestarikan sampai kapan pun.

Ekosistem Kreatif Brantas juga menjadi pelestari tradisi ini dengan menyelenggarakan Gayeng Nang Museum. Gayeng Nang Museum tahun ini terdiri dari beberapa cara seperti do’a bersama, kundangan ambeng dan makan bersama, warna abhipraya, larung pelita juga tentunya berbagai pertunjukan seni budaya Njombangan. Acara malam itu diikuti oleh sekitar 20 orang, berlangsung gayeng, dekat, dan kidmat.

Salah satu agenda acara adalah Warna Abhipraya. Abhipraya adalah kata dalam bahasa Sansekerta yang berarti do’a atau harapan. Peserta diberikan kertas bergambar ukuran postcard dan kemudian mewarnai menggunakan crayon, spidol atau pensil warna. Di balik kertas gambar itu, mereka menuliskan harapannya di tahun baru. Bagi mayoritas peserta, ini adalah momen mereka mewarnai lagi setelah terakhir beberapa tahun atau puluh tahun lalu. Rata-rata mereka terakhir mewarnai saat usia anak-anak. Warna Abhipraya menjadi momen sederhana dimana semua orang bisa menuliskan dan memanjatkan harapan mereka di tahun baru. Semoga semua harapan bisa didengar dan mengetuk pintu langitnya Gusti Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

“Saya terakhir mewarnai adalah ketika saya masih di SD.” ujar Mbak Sulasih yang saat ini usianya sudah lebih dari 50 tahun.

Acara dilanjut dengan kundangan ambengan dan makan bersama. Ambeng kali ini berasal dari keluarga besar Mak Mun dan Pak Har. Dalam do’a yang dipanjatkan bersama, perserta/ warga memanjatkan harapan agar tahun baru ini penuh dengan kebaikan. Warga juga memanjatkan do’a untuk sanak keluarga yang telah pergi berpulang atau meninggal. Selesai do’a, warga makan bersama dengan menu makanan dari ambeng, jajan, serta minuman yang disajikan. Makan bersama ini terlihat sederhana namun sangat gayeng dimana warga menikmati karunia Tuhan Yang Maha Esa dengan syukur dan kebersamaan.

Acara selanjutnya adalah Larung Pelita. Pelita yang kami maksud adalah lilin yang kemudian kami letakkan di atas cangkang buah maja. Larung pelita ini adalah simbolis. Pelita bersifat memberi sinar dan penerangan. Pelita memberikan petunjuk bagi orang-orang yang memang membutuhkan. Pelita menyala karena api. Api selain memberikan penerangan juga bisa memberi dampak buruk, bisa membakar perlambang emosi, amarah, dan sifat buruk manusia. Cangkang buah maja berasal dari kulit luar buah maja, buah yang berasa pahit yang menurut kami menjadi simbol pahit getirnya kehidupan yang dialami manusia.

Pelita ini kemudian kami larung atau bahasa setempat “kintirkan” di anak Sungai Brantas yang letaknya tepat di sisi Museum Brantas Jombang. Larung ini bermakna melepaskan. Kami berharap bisa melepaskan api dan cangkang buah maja untuk hidup yang lebih baik di tahun yang baru tentunya atas petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa. Air sungai akan mengantarkan pelita sampai jauh, memberikan penerangan bagi semesta alam yang dilewatinya. Kami berharap bahwa kebaikan akan terus mengalir seperti halnya air anak Sungai Brantas ini.

“Ini adalah Larung pelita pertama yang kami lakukan. Sebenarnya ini terinspirasi dari larung pelita yang diadakan di Kali Progo jelang Waisak, tentunya kami sesuaikan dengan kondisi dan kearifan lokal di daerah kami. Larung pelita ini rencananya akan kami lakukan di tiap malam 1 suro atau di waktu lain yang sesuai.” jelas Muchdlir Zauhariy atau akrab disapa Johar, pendiri Ekosistem Kreatif Brantas.

Acara Ekosistem Kreatif Brantas tentu tidak lengkap tanpa adanya hiburan seni budaya Njombangan. Pada malam hari itu, acara berlangsung seru dengan hiburan musik tradisional opyak. Peserta menyanyikan berbagai lagu Jawa serta sholawatan. Selain itu juga ada pementasan sederhana Wayang Brantas. Acara ini berlangsung secara gayeng, menjadi momen bagi warga untuk berkumpul dan terhibur. Kami terus berkomitmen dan bertindak nyata untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya khas Jombang atau Njombangan.

Acara ini juga makin meriah dengan adanya doorprize undangan berhadiah. Tiap peserta mendapatkan satu kupon yang di tengah acara diundi. Total ada 6 hadiah yang dibagikan dalam bentuk mangkok cantik. Hadiah sederhana namun tidak mengurangi makna akan syukur. Selamat bagi yang menang dan untuk yang belum menang, semoga bisa menang di doorprize acara Ekosistem Kreatif Brantas berikutnya ehehe.

Ekosistem Kreatif Brantas mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam proses persiapan acara, berbagai pihak yang ikut menyumbang seperti konsumsi dan seluruh peserta acara. Semoga acara ini memberikan pengalaman yang berkesan dan berkah juga manfaat bagi banyak pihak.

Semoga di tahun baru ini kita semua selalu diberikan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, kelimpahan rezeki yang halal juga barokah, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Amien.

Ekosistem Kreatif Brantas (EKB) adalah inisiatif pembangunan wilayah pedesaan yang berada di bawah naungan Yayasan Salasika Indonesia. EKB berfokus pada pelestarian lingkungan, pelestarian seni budaya, dan pemberdayaan ekonomi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *