Berita EKB

EKB Sampaikan Kritik Sosial Lewat Pembuatan Lagu “Orang Desa, Katanya”

Ekosistem Kreatif Brantas terus berkreasi melalui penciptaan lagu. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kami juga menargetkan untuk menciptakan lagu baru. Beberapa lagu yang sudah kami ciptakan antara lain “Mlaku-Mlaku Nang Megaluh” dan “Bersuara Bersama”. Lagu-lagu yang kami ciptakan bukan lah sembarang lagu karena akan selalu mengandung pesan atau pun kritik. Kadang lagu ini tercipta karena ada kejadian yang memang kadang menyentuh hati kami atau kadang juga memancing emosi dan rasa ingin mengkritik kami.

Pada 2026 ini, ekonomi terasa sulit dimana banyak faktor yang menyebabkannya. Nilai rupiah makin melemah dan banyak barang kebutuhan yang harganya makin mahal. Di sisi lain, lapangan pekerjaan juga makin sulit dicari. Hidup semakin sulit, di sisi lain mungkin ada beberapa kebijakan pemerintah yang justru banyak mendatangkan kritik dari berbagai pihak. Kebijakan yang terkesan menghabiskan banyak anggaran negara, berpotensi mendatangkan KKN, serta manfaatnya kurang terasa bagi banyak kalangan. Atas hal ini, kami akhirnya tergerak untuk menciptakan lagu yang berjudul “Orang Desa, Katanya”.

Berikut ini adalah liriknya:

Pembuka:

Tak lelo lelo ledung

Cep meneng ojo pijer nangis

Anakku seng bagus rupane

Yen nangis ndak ilang bagus e

Nada 1:

Ya kami memang orang desa

Lahir besar begitu takdirnya

Kenapa jadi berprasangka

Mreka bilang begini bunyinya:

Nada 2:

Kamu itu hanya orang desa (mosok se)

Kamu tidak tahu apa-apa (ngunu ta)

Hidupnya juga biasa saja

Jangankan dolar, rupiah tak punya

Konon kami tidak ada daya (bener ta)

Kalah maju dibanding lainnya (la dalah)

Jangan begitu, kawan semua

Kita sama-sama manusia

Nada 3: Reff

Lar dolar dolar dimana dolarnya?

Dicari-cari tak ada wujudnya

Lar dolar dolar aku endak punya

Uang rupiah pun endak ada

Nada 1:

Ya kami memang warga desa

Tapi kami hidup bahagia (bahagia)

Dengan syukur yang dalam terasa

Rukun tentram bareng selamanya

Nada 2:

Kalian bisa jauh lebih kaya

Harta pangkat segalanya ada

Semua itu hiasan dunia

Jangan sampai hina-hina kita

Tidak usah besar kepalanya

Jiwa raga tampak jelas fana

Kami pasti akan terus ada

Kita semua warga Indonesia

Nada 3: Reff

Lar dolar dolar dimana dolarnya?

Dicari-cari tak ada wujudnya

Lar dolar dolar aku endak punya

Uang rupiah pun endak ada

Nada 1:

Ya kami memang orang desa

Juga bangga ber Indonesia

Ikut membangun bangsa negara

Dengan jalan yang tentu kami bisa

Tak gadang bisa urip mulyo

Dadiyo prio utomo

Ngluhurke asmane wong tuo

Dadiyo pendekaring bangso

Pesan Mendalam dari Ujung Desa

Lagu ini bukan sembarang lagu, karena memang mengandung banyak sekali pesan dari kami warga desa. Pesan tersebut antara lain:

  1. Bahwa warga desa juga sama-sama manusia. Kita memiliki martabat yang sama terlepas dari kondisi ekonomi yang berbeda
  2. Bahwa warga desa juga sama-sama warga Indonesia. Kami bangga dan berkomitmen untuk membangun bangsa dan negara dengan jalan yang kami bisa
  3. Kami memang tidak butuh dolar dan tidak menggunakan dolar untuk transaksi ekonomi namun tentu naik turunnya dolar atau naik turunnya rupiah akan berdampak kepada kita di desa
  4. Walau sebagai warga desa namun jangan jadikan kami komoditas untuk diolok-olok karena alasan apapun. Jangan melakukan sesuatu yang tidak baik dimana kamu juga tidak ingin mengalami hal yang serupa

Pembuatan lagu ini terbilang cukup cepat, hanya sekitar 2 hari saja mulai dari ide muncul sampai perekaman suara dan video. Adapun beberapa keluarga besar Ekosistem Kreatif Brantas yang terlibat antara lain Mas Jaka, Mas Yoyok, Cak Umbar, Cak Rotul, Mbak Ifa, Mbak Fitri, Mbak Dilah, Mas Johar. Adapun lagu ini akan bisa diakses di youtube Ekosistem Kreatif Brantas.

Di alam demokrasi ini, setiap warga negara punya hak dan kebebasan untuk menyampaikan kritik yang membangun. Kami sebagai warga desa juga ingin memainkan peran ini. Mari terus bangun Indonesia dan jangan pernah berhenti mencintai bangsa negara ini. Matur suwun.

Ekosistem Kreatif Brantas (EKB) adalah inisiatif pembangunan wilayah pedesaan yang berada di bawah naungan Yayasan Salasika Indonesia. EKB berfokus pada pelestarian lingkungan, pelestarian seni budaya, dan pemberdayaan ekonomi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *